Mengaca Diri Sebagai Da’I

Mengaca Diri Sebagai Da’I 

Dalam meneliti perjalanan dakwah Islam, para da’I maupun aktivis Islam harus selalu mengaca diri dari waktu ke waktu sampai sejauh mana penghayatannya terhadap nilai-nilai Islam yang sedang diperjuangkannya. Mengaca diri, pada peringkat yang paling rendah adalah melihat diri menerusi cermin kaca yang ada di mana-mana, cermin seperti ini terdapat di banyak tempat, umpamanya kereta dan segala jenis kenderaan dimana di kenderaan terbabit pasti adanya cermin pandang belakang yang amat bermanfaat untuk melihat apa yang sedang berlaku dan telah berlaku di belakang lalaunya. Peri pentingnya cermin ini, tanpanya sesebuah kenderaan tidak akan diluluskan pengelurannya. Begitulah kepentingan sebuah cermin yang sebesar yang anda ketahui itu. 

Maka bagi seorang Da’I cermin adalah kelengkapan utama yang perlu sentiasa ada untuk digunakan dari masa ke semasa bagi menyemak iltizam, komitmen dan kesungguhan seorang aktivis terhadap kariernya  sebagai seorang Da’I, Adakah seorang Da’I masih komited menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang muslim yang muslih.

Hal seperti ini lah yang menjadikan sebuah ‘cermin’ itu penting. Maka cermin atau kaca bagi seorang Da’I adalah masyarakat sekeliling, jiran tetangga, rakan taulan, saudara mara dan sesiapa sahaja yang berada sentiasa disekelilingnya.Hendaknya mereka melihat posisi  dirinya terutama dalam hal iltizam (komitmen) terhadap nilai-nilai Islam agar tidak tergolong menjadi golongan orang-orang yang dimaksudkan dengan firman Allah SWT 

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan (memilih Islam), sedangkan kamu melupakan diri (kewajipan) kamu sendiri, padahal kamu membaca kitab? Tidakkah kamu berfikir?” (al Baqarah 44)            

Juga agar tidak tergolong orang-orang yang dimaksudkan Allah di dalam Firman-Nya yang lain 

“yaitu orang-orang yang sia-sia amal perbuatanya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka sudah berbuat sebaik-baiknya (al Kahfi 104)            

Ayat ini sesungguhnya mampu merisaukan kita, risau kerana kita masih belum cukup sempurna dalam mengerjakan ibadah, solat kita masih di hujung waktu, tidak berjemaah ke surau/masjid, itu belum diambil kira kekhusuqkan dalam solat yang sering lalai dan leka. Tahajjud masih terlalu amat kurang berbanding mereka yang bukan aktivis maupun Da’I dan seribu satu bentuk ibadah lain yang belum di explore dan di kuasai oleh kebanyakan para Da’I yang menjadi aktivis. Kalau bukan ini, aktiviti utama seorang Da’I (untuk kuat beribadah) apakah lagi tujuan anda menjadikan diri anda seperti sekarang ini.             

Orang-orang yang sebenarnya merugi/muflis pada hari kiamat menurut islam adalah orang yang tidak dapat menyelamatkan dirinya dari siksaan neraka walaupun mereka berhasil merangkul dunia dan segala isinya. Dan, sebenarnya orang-orang yang beruntung pada hari kiamat menurut Islam adalah orang yang berhasil menyelamatkan dirinya dari dikenakan siksaan neraka, walaupun mereka gagal merangkul dunia sama sekali.. Orang yang sebenarnya beramal soleh ialah orang-orang yang berbuat baik terhadap dirinya terlebih dahulu yaitu melepaskan diri mereka dari  kepungan api neraka terlebih dahulu. Bukankah kita biasa mendengar Firman Allah SWT: 

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak perbuat? Amat besar kemurkaan Allah bahwa kamu mengatakan yang tidak kamu kerjakaan “(as Shaf 2) 

Sudah sewajarnya bagi seorang yang mengelar dirinya sebagai seorang aktivis melaksanakan tuntutan nilai keislaman terlebih dahulu untuk dirinya, bukan  untuk kemenangan di dunia sahaja akan tetapi bagi memastikan kita yang beriman (kerana menjadi da’I dan aktivis) tidak persalahkan dan dimurkai Allah hingga sempat singgah ke Neraka yang Jahannam itu. Tingkat iltizam (komitmen) seorang Da’i/aktivis terhadap Islam harus jauh melebihi tingkat iltizam orang lain (awam) yang menjadi sasaran dakwah.

Seandainya tingkat komitmen terhadap nilai keIslaman seorang Da’I sama dengan tingkat masyarakat awam yang mau diajak memilih Islam, maka dia tidak memiliki keutamaan dan kepentingan menjadi seorang Da’I yang aktivis, bahkan ia pasti menanggung dosa kepura-puraan menjadi seorang aktivis Islam didepan orang lain. (Perhatikan semula ayat-ayat al Qur’an di atas). Hal ini harus lah segera disedari kerana Allah telah melakukan bai’ah dengan mereka melalui firman-Nya:

 “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syuga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh dan terbunuh. (Ia telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an). Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) dari Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar” (at Taubah 111) 

Sesungguhnya kesetian para Da’I terhadap bai’ah ini bergantung kepada tingkat dan kualiti ilitizam (komitmen) mereka terhadap sikap-sikap keimanan[1] yang di isyaratkan oleh ayat berikutnya. 

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, yang memuji Allah, yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan yang mencegah dari melakukan kemungkaran, dan yang memelihara hokum-hukum Allah. Dan bergembiralah orang-orang mukmin itu (at Taubah 112) Sekian…Wassalam


[1] Sikap-sikap keimanan ini akan dibedah pada kesempatan yang berbeza..insyallah, namun para aktivis boleh menyemaknya terlebih dahulu menerusi ayat 112 at Taubah.

Advertisements

One thought on “Mengaca Diri Sebagai Da’I

  1. ustaz aku dulu selalu cakap, jangan hanya menjadi da`i, yang arif tentang agama, tapi jadilah tekno-da`i, yang arif tentang dunia…

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s